Kamis, 17 Desember 2009
surat yang ingin kukirim
terimakasih atas segala curahan nikmat-Mu hingga detik ini
setiap jengkal tanah yang masih terpapar..
begitu luas hikmah yang Kau paparkan dimuka bumi ini
dalam setiap partikel yang tiada henti memuji asma-Mu.
Ya Allah Yang Maha Agung
tiada keagungan melebihi keagungan-Mu
tiada kekuasaan diatas kekuasaan-Mu
kealpaanku mengeja asma-Mu, semoga tidak menjadi murka-Mu atas bumi ini
kelalaianku atas perintah-Mu, semoga tidak menjadi penghalang sisipan cinta-Mu kedalam kalbuku
Allahu Rahman
begitu agung cinta yang Engkau miliki,
semuanya terlukis dalam gegap semesta raya yang tiada berhenti membulirkan pujian dalam senandung cinta..
dalam ketundukan dan kepasrahan hanya kepada-Mu
dalam tasbih yang kian memecah keheningan sepertiga malam
Allahu Rabbi
segenap sujud atas keMahaan-Mu
meski tak lagi seikhlas dulu..
meski perlahan nafilah ku terkelupas satu persatu
dalam tilawah yang kian memudar..
dalam tangisan sepertiga malamku yang tak lagi terisak
tapi pintaku Ya Rabbi,, semoga akhirku bisa berbingkai cinta-Mu
Allah Ya Kariim
begitu mudah maksiat terciprak dari jiwa dan ragaku
tanpa teringat sedikitpun akan Muraqabah-Mu
bukan untuk mengabaikan siksa-Mu
bukan pula melawan ketentuan-Mu..
semuanya karena lemahnya hatiku untuk memelihara janji untuk -Mu
belaskasihanilah aku yang penuh kelemahan ini
Ya Allah Ya Rahim...
kalbuku kian pekat oleh debu2 dunia
memohonku atas cinta dan takut kepada-Mu yang memenuhi ruang hatiku
dengan ketaatan dan kepasrahan kepada-Mu
serta rindu dan takut kehilangan-Mu
Ya Rahman
curahankan kasih sayang-Mu
untuk jiwa ku yang kian mengerdil tanpa cahaya
bimbing aku menggapai cahaya-Mu
sebelum usia ku tak lagi ada
bimbinglah mengikuti akhlak Rasul-Mu
beraqidah yang Engkau benarkan
berhati yang berjuntai rindu untuk-Mu
mengerdil dikala subuh nan syahdu
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Rabu, 16 Desember 2009
sepenggal kisah dari sahabat
Untuk kalian yang terbiasa hidup mewah, dan tak pernah puas dengan apa yang kalian miliki, untuk kalian yang selalu membandingkan harta yang kalian miliki dengan orang lain, dan ingin selalu berada diatas ataupun sejajar dengan mereka, hingga ambisi kalian menelan lembutnya hati kalian sendiri.
Tidak, aku bukan ingin menangisi takdirku, tapi aku hanya ingin mengajak kalian untuk lebih bersyukur. Dan sebelumnya Maafkan aku jika harus melahirkan manik2 bening dari setiap sudut mata kalian.
Aku memang bukan seorang yang dilahirkan dalam keluarga kaya raya ataupun berkecukupan. Bukan pula seorang yang mampu untuk sekedar mencicipi makanan2 mewah ataupun fasilitas2 sederhana sekalipun. Aku, seorang anak yang tumbuh dalam keluarga penuh ukiran masalah, bahkan sejak lahir kanvas hidupku bersama keluarga ku selalu berhias cat kemelaratan. Tapi tak mengapa, aku masih punya tempat berteduh dan tak perlu tidur diemperan toko, walaupun hanya berstatus kontrak. Jalan hidup yang digariskan-Nya benar2 menguras air mataku, dan bahkan akupun terlihat sangat rapuh, tidak hanya dikeluargaku, namun juga dilingkunganku. Acapkali aku mengalami kesulitan biaya dikala iuran sekolah memasuki jatah pembayaran. Akupun hanya bisa pasrah , berdoa sebisaku agar ayahku mendapat rezeki lebih selain untuk makan , agar iuran sekolahku terlunasi.
Kemiskinan kerapkali menjadikan kami manusia2 egois yang begitu mudah terpancing amarah antar kakak beradik, bahkan terlihat dari luar sana kami seperti keluarga yg dikerumuni setan. Aku sadar aku tak bisa berbuat banyak, tak bisa juga menopang kehidupan keluargaku, karena aku tak bisa apa –apa selain belajar , belajar dan belajar. Namun, apalah daya prestasiku yang melangit sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah hanyalah menjadi memori yang kusimpan baik2 dan dengan begitu rapat dalam setiap ruang ingatanku. Bahkan saat aku berhasil lulus pada sebuah sekolah tinggi yang hanya harus membayar biaya adminisrasi masuk,-tanpa biaya lainnya-yang jumlahnya berkisar dibarisan angka SATUJUTAAN, terpaksa, dengan sangat terpaksa undangan tersebut kubakar didepan rumahku dengan air mata yang benar2 tak sanggup kubendung. Ayahku tak memiliki uang yang mungkin dalam ukuran kantong kalian bukanlah jumlah yang sangat besar, bahkan mungkin kurang dari JUMLAH UANG YANG KALIAN HABISKAN SELAMA SEBULAN. Tapi bagiku, semuanya hanya mimpi, aku tidak akan pernah bisa mengecap pendidikan yang lebih tinggi, meskipun pernah memiliki prestasi yang sangat gemilang.
Berulangkali aku menangis, dan mengadu segala keinginan ku kepada Yang Maha Kaya, namun tak satupun harapku terijabah. Dan beberapa tetangga baikku, senantiasa menyarankanku untuk tidak terlalu ambisius mengejar mimpiku untuk kuliah dibanda aceh dengan berbagai alasan yang begitu lembut disampaikan, ya. Aku tahu mereka tak ingin menyakiti perasaanku.
Sekarang , setelah beberapa pintu keinginanku tertutup dan aku sedikitpun tak mampu menerobos pintu2 tersebut, ternyata Allah benar2 membuka pintu lainnya, sekarang aku berada disebuah tempat yang sangat nyaman. Tiada hari tanpa tilawah, tiada hari tanpa shalat berjama’ah, dan tiada hari tanpa belajar mengkaji ilmu- ilmu-Nya. Ditempat ini, aku terdampar dengan segenap tangisan, karena masalah keluarga yang tiada henti dilukiskan-Nya diatas kanvas hidupku, bahkan dengan biaya hidup yang jarang kuperoleh, kalaupun ada hanya berkisar seratus ribuan perbulan yang mampu diberikan oleh ayahku. Aku dan ayahku diusir oleh keluargaku, karena fitnah yang mereka tebarkan sendiri, bahkan ayahku, sang kepala keluarga, sampai harus berteduh ditempat orang lain. Dan tetap mencari nafkah agar kami bisa bertahan hidup, meskipun ditempat kuberteduh aku harus rela mengirit sebutir telur yang kugoreng dengan minyak seadanya agar bisa kujadikan lauk untuk 2 hari. Bisa kalian bayangkan?? HANYA DENGAN SERATUS HINGGA SERATUS RIBU RUPIAH YANG MAMPU DIBERIKAN AYAHKU. Tapi disini, aku benar2 belajar untuk tiada berhenti berharap kepada Allah, agar aku tidak mati kelaparan. Dan saat aku mencoba pulang kerumahku sendiri untuk pertama kalinya, taukah kalian bagaimana perlakuan keluarga besarku lainnya?? Mereka jelas2 menolakku, mengusirku dengan kasar, bahkan tidak sebutir nasipun mereka berikan, hanya karena aku mendukung ayahku yang benar2 berjuang dijalan-Nya sekarang.
Hingga detik ini, aku hanya bisa mengalunkan ribuan do’a setiap harinya agar hati mereka terbuka. Dan kukatakan dengan tegas aku tidak akan kelaparan, karena aku masih memiliki Dia. Setiap kali perutku kosong total, karena tak sepeserpun kiriman datang _walaupun hanya 100 ribu rupiah untuk sebulan- Dia selalu memberiku makan, melalui tangan2 dermawan yang tiba2 menjengukku di tempatku belajar. Allahuakbar, tak ada kasih sayang yang lebh indah selain dari-Nya…..
Dan terakhir kalinya aku bisa kembali menginjakkan kedua kakiku dirumah ku, pengusiran secara halus yang justru kuterima, mulai dari ruang yang sama sekali tidak disediakan untukku, hingga umpatan2 yang kerap kali kuterima. Dan aku hanya bisa diam dan meneruskan tasbihku, karena Dia, ya, karena Dia yang telah memilihkanku jalan seperti ini. Biarlah semua tangis pasrah dan harapku terbang bersama sayap syukur yang masih tersisa dalam relung2 jiwaku, dan semoga tak hanya sampai ke’arasy, tapi juga mampu menerobos batas bilik2 hati kalian yang terus mengejar ambisi.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Selasa, 15 Desember 2009
jalan hidup
Label:puisi corat coret, ada duka, pingin nulis serius but ringan bahasanya
Sabtu sore yang membingungkan ,dengan agenda yang tak tertata rapi
Aktifitasku, kuhentikan sejenak, azan sudah bergema dimushala kid, mushala dihujung lorong kecil ini, meureubo .meskipun berukuran mini, namun bukan berarti sepi tersapa. Jama’ah yang mayoritas mahasiswa kerap hadir menunaikan sehelai kewajibannya, zhuhurkah atau ashar, namun jika magrib bertamu, maka jama’ah yang hadir bergaris – garis wajah, tanda usia sudah mulai senja.
Ba’da ashar, JJS (jalan – jalan sendiri) yang sudah kurancang dari sebelum ashar menyapa,rontok perlahan , bingung dan beragai pertimbangan lainnya menari –nari dialam fikiran ku, TA ku belum siap, novel, puisi, cerpen, ah..semuanya berkelebat dan menawarkan kebingungan yang begitu menggunung, sekedar mencatat bahwa kelas fikiranku sedang mengacau adanya.
Kubawa kakiku bergerak mengitari pintu demi pintu kosan sederhana ini, dan langkahku terheti didepan kamar rame, yang hari ini tidak tertutup, tumben dia tidak tidur sore ini. Layar computer yang disetting TV tunner masih menyala dan dia masih larut dalam asharnya, tak kutunggu lama, kuberanikan diri menerobos masuk, eits bukan tanpa izin ya, beginilah kebiasaan dikosan ini, semua penghuni sudah seperti kakak adik jadi tak perlu basa basi lagi jika ingin sekedar rehat dikamar penghuni lainnya.
Tak lama, setelah asharnya lepas, dia pun beranjak merapikan diri, dan iseng kutanya tujuannya,mau keluar kak, yah kira2 begitulah maksud dari perkataannya. Gegas kukembali kekamar, mengingat laptop yang masih tercas, khawatir harus mengganti batrei lagi jika overload… bisa dua kali bangkrut ne… dan juga tak enak jika harus berada disini terus menerus
Lirik kiri kanan, tak ada riuh melapisi ruangan manapun , yang bermakna penghuni kos hilang satu persatu, ririn, rika, oja kuadrat juga lenyap. Dan putusku ambil jalan keluar sejenak, hirup bebas knalpot sore didarussalam, wilayah kecil dibadan banda aceh.
Kuikuti rentak aspal jalan meureubo ini, melewati beberapa polisi tidur, lalu lalang pengendara motor yang sedikit tercegat, dan bangunan magister ekonomi yang belum rampung, tepat dihujung jalan bersebrangan dengan tegak kokoh fakultas teknik.
Labi – labi menjadi pilihanku melewati hari ini, angkutan umum ini sepertinya akan mengambil rute memutar melewati jurusan teknik kimia, mipa kimia , gedung kedokteran pertanian, FKH, FKIP, HUkUM, dan berhenti sejenak dimesjid jami; , menurunkan beberapa penumpang, yang sepertinya mahasiswa baru, karena kulihat tentengan sertifikat UP3Ai.
Aroma gorengan disisi kanan mesjidd begitu menggodaku, hampir saja langkahku turun kesana, namun mengingat tujuan awalku bukanlah kemari, maka dengan berat hati, mengunci aroma lezat tersebut erat2, laju pun berlanjut.
Dan pandanganku kembali tertuju kesisi lain hidup yang selama ini kubutakan sendiri, :orang orang kecil yang benar – benar berjuang menghadirkan peluh. Berjejer rapi penjual makanan disepanjang trotoar dari depan masjid jami hingga perpustakaan unsyiah. Yang tak luput dari pengusiran MENWA (resimen mahasiswa) yang acapkali bertugas menggusur para pedagang yang rutin berjejer dipinggir trotoar.
Perjalanan pun berlanjut , namun jeda kembali sesaat,padahal waktu yang kutempuh sudah melebihi batas maksimal perjalanan dengan jalan kaki menuju lokasi yang sama namun tidak berbelok – belok seperti ini.
Sejenak kemudian timbul lintasan diruang fikirku, analogi perjalananku ini dengan perjalanan hidup sesungguhnya. Acapkali kita memilih jalan yang menurut kita lebih aman dan cepat namun ternyata hidup menawarkan hentakn hentakan yang entah apa judulnya. Godaan – godaan pun tak luput menghadang, dan semuanya hadir sebagai warna warni hidup, agar hidup tidak dijalankan dengan egois. Sesekali kita peru berhenti sejenak melihat dunia diluar diri kita, jangan sampai rutinitas harian menjadikan kita sosok – sosok yang hanya melihat dan berputar dilingkungan itu – itu saja. Banyak hal diluar sana yang perlu kita perhatikan, karena sesungguhnya alam ini diciptakan bukan hanya untuk ditempati tapi juga dibaca dan dipelajari.
Salam
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
