Minggu, 16 Mei 2010

Buku, rak, dan Ayah

0 komentar
malam ini, rindu lama itu lindap lagi.

beberapa menit lalu saya mencoba mengganti layout sebuah account, dan tiba - tiba plilihan jatuh pada gambar perpustakaan, lebih tepatnya rak buku yang muatannya penuh. gambar itu lebih tepatnya disebut lukisan, warnanya coklat, buku - bukunya juga demikian.
--------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------

haru itu muncul lagi, kenangan lama. beberapa buku diatas meja, dengan kaca mata minusnya, selonjoran ia menikmati siang yang bagi sebagian kalangan seumur beliau kebanyakan di isi dengan tidur siang.

si kecil yang selalu iseng menghampiri beliau, menggeliat manja, mengintip bacaan beliau juga menyerakkan buku - buku di atas meja. sesekali melirik kerak buku yang penuh dengan buku - buku yang terasa asing dan sepertinya kurang menarik kala itu. maklum, si kecil yang masih balita ini lebih tertarik dengan buku - buku bergambar menarik dan berwarna - warni.


hingga akhirnya, beberapa tahun kemudian, saat si kecil tak lagi kecil, tapi tetap menjadi si kecil kesayangan sang ayah, saat usianya beranjak remaja, sosok yang mengenalkan bagaimana nikmatnya membaca, sosok yang menyediakan rak buku kaca di ruang bacanya yang sekarang disulap menjadi ruang tamu kedua-mengingat lebih efektifnya ruang baca merangkap ruang keluarga- akhirnya pulang kembali ke muasal.

tak harta melimpah ditinggalkan untuk si kecil ataupun kakak - kakaknya, tapi rak buku itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. "ada beberapa buku bagus yang raib, entah siapa peminjamnya, ibu lupa" ucap sang ibu sambil menerobos kaca penutup Rak buku.


"kalian beruntung, ayah kalian meninggalkan banyak ilmu untuk kalian" suatu ketika seseorang itu berujar. si bungsu diam, merenung.

ya. beliau pergi, tapi tak pergi nyata. ada kenangan dan ilmu yang tak terputus, ada warisan yang lebih mahal dari tanah melimpah, rumah gedung, atau perhiasan mewah. buku - buku itu, insyaAllah akan terus mengalirkan ilmu, meski jumlahnya tak seberapa.

lalu ia, sang ayah meninggalkan jejak petualangannya melahap buku pada si bungsu. mencetak jejak itu tepat di diri si bungsu, tak hanya si bungsu sebenarnya, tapi yang teralu tercopy karakternya adalah di diri si bungsu. si bungsu pun terlangkah mengikuti jejaknya, melahap bacaan tanpa syarat, dengan sinar benderang kah, atau dengan pencahayaan lilin sekalipun.

semua kenikmatan itu sungguh menerbitkan kenangan akan sosok yang telah menurunkan tabiat yang begitu membahagiakan... ya, buku adalah sahabat yang keren, sahabat yang selalu membuka cakrawala fikiran, sahabat yang merubuhkan tanda - tanda tanya, dan semua kegilaan melahap lembar - lembar darinya baru si bungsu sadari ternyata tercetak mengikuti apa yang ada di diri sang ayah.

si bungsu pun menyadari ambisinya memiliki perpustakaan pribadi bahkan perpustakaan untuk masyarakat di tempat tinggalnya ternyata turun dari pola fikiran sang ayah...
ya..si bungsu kian rindu...meski rindu itu hanya sebatas rindu, tak mungkin bersua..karena alam dia dan sang ayah sudah berbeda, berharap wisuda dihadiri sang ayah, tapi harap tetap harap..hanya harap ini yang tak mungkin dipinta kepada Sang Pemilik agar nyata terjadi..

menggantung harap agar setelah tamat benar - benar memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi yang lebih..lebih..dan lebih banyak lagi----> inilah alasan si bungsu menjadi setengah gila jika bazar buku terdengar kabarnya di telinga.


*saat rindu itu hadir, saat kenangan itu memaksa bulir bening melewati kelopak mata*

Banda Aceh, 16 mei 2010



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Rabu, 21 April 2010

kematian dua pembunuh (FF)

0 komentar
"aku masih menyimpan erat mimpi itu " ku tarik nafas dalam, "terantai dengan baik dalam setiap sel - sel yang ada di kepalaku, bahkan kuncinya sengaja kulempar kelaut agar tak seorangpun menghalau rencana kita" kali ini dia hanya diam.
"kau masih ingat bincang terakhir kita, sebelum bumi ini benar - benar terbalik seperti sekarang?"
anggukan lemah yang kudapat.
"bagus, kukira ingatanmu sudah karatan"
"aku hanya tak ingin ada lagi yang tewas," ekor mataku mengikuti bening yang meluncur keatas tanah, "terlalu kejam."dia bangkit lalu mengambil beberapa kerikil.
"kita mungkin hanya seperti ini," matanya mengarah ke tiga kerikil di telapak tangannya. "kerikil ini bisa saja membunuh, membutakan dan juga merobek telapak kaki bila tak lihai"
"ya, aku setuju, lalu apa lagi yang kau ragu?"tanyaku menyelidik
"dunia sudah terbalik kawan, kau tak kenal siapa rekan dan siapa lawan"
"ah, persetan dengan ucapanmu, setelah misi ini mereka bilang kita bebas dan bisa melenggang keluar dari negeri ini, negeri para penipu ini"
"misi ini akan berakhir juga dengan kematian." nafasnya berat.
"tentu saja kawan, kita ini pembunuh bayaran, kedok kita tertutup rapi dengan jabatan tinggi kita diperusahaan besar."
"maksudku kematianmu kawan" door... tembakannya meleset,aku limbung, sigap kuambil senapan yang disaku kananku. door..aku berhasil, tepat sasaran. dia tersungkur.
kawan, sepertinya kita memang diperdaya, aku juga ditugaskan menghabisimu..pistol yang sama kuarahkan kekepalaku.door.... debu - debu terkejut dan terbang.
sunyi, darah tercecer dan basahi tanah.

mereka bodoh.. mau saja diperdaya oleh penguasa.. diskusi ceceran darah

*nyoba doank*
sambil voice call dengan suara mirip robot gara - gara jaringan..




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Jumat, 02 April 2010

alpakan saja semua lara

0 komentar
ya, ditikam lalu dibuang
sudahlah lupakan saja

beberapa lintas telah genap terbaca, masih lagu lama yang terdengar, akhirnya ear plug yang sedianya ada hanya untuk berjaga - jaga nyatanya harus dialih fungsikan menjadi senjata utama.

kita memang harus menipu telinga sendiri, pura - pura tuli lalu palingkan pandangan menatap padang dan taman hijau yang begitu menyejukkan. lagipula kita sama membaca gelagat yang tak seharusnya hadir dihamparan kerikil, kerikil nan cadas.

sudahlah, kau dan aku sama ditikam, tapi syukurlah kita tidak mati begitu saja, pisau mereka kurang tajam untuk memenggal leher kita. ingin membalas? sudahlah jangan. jika balasan kita kirimkan, maka kita sama saja kelasnya dengan mereka. sudahlah, lisan ini juga harus dipertanggungjawabkan kelak, dan aku sama sekali enggan berurusan dengan kejar mengejar raga lainnya dipadang mahsyar kelak, kukira kau juga seide.

mari kita layarkan fikiran menembus dimensi yang sama kita rindui, taman hijau, istana hijau berpilar megah, tirai - tirai hijau. ahai, untuk yang satu ini maafkan. aku benar - benar tak setia, aku sudah mengunjunginya dua malam sebelum ini, diundang menjadi ratu di istana hijau yang tak tau dimana alamatnya, kota apa dan negara apa. meski hanya hitungan menit saja. namun bebanku seolah terangkat..bena - benar teduh.


oklah, saatnya melapangkan hati, tengadah kedua telapak tangan, lalu urai saja tangisan agar Dia beri segala pinta. ingatkan yang terzhalimi tak ada hijab apapun? eits..wait kawan, pintalah saja kebaikan menaungi, bukan suatu pembalasan, agar kau dan aku tak sama kelasnya dengan mereka, ingat itu.....

ruang hijau ,,ruang hijau...merindu lagi mengunjunginya, kuajak kau serta berharap dimensi dapat kubeli, lalu sama ruahkan bahagia disana. menyadap segala pilu dan tikaman pisau yang nyaris mengoyak telinga

banda aceh, mengenang pergelaran yang kurang menyenangkan
2 april 2010



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO